Epistemologi Nasionalisme

Epistemologi Nasionalisme

Tonny d’effendi

Asal Kata Nasionalisme

l Natio (Latin) yang berarti “saya lahir” (Guido Zernatto, 1944)

l Asemblee Nationale dipakai oleh Parlemen Perancis pasca Revolusi Perancis abad 18.

l Sejak saat itu nation digunakan untuk menyebut penduduk yang tinggal disuatu negara

Ethno-nationalism

l   Asumsi : nasionalisme muncul sejak manusia mengenal kekerabatan biologis (Anthony Sminth, 1986)

l   Ethnie à kelompok sosial yang diikat oleh atribut kultural seperti memori kolektif, nilai, mitos, dan simbolisme

l   Ethnie memberikan batas budaya antara satu bangsa dengan bangsa yang lain

l   Gerakan politik nasionalisme adalah sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal dasar dalam membangun sebuah negara berdasarkan kesamaan budaya (John Hutchinson, 1987)

 

l  Masalah : kesamaan budaya tidak bisa menjelaskan batas-batas bangsa dalam masyarakat kontemporer

l  Ethnonationalism digunakan untuk mengamati masyarakat monokultur seperti Jerman, Jepang dan Italia

l  Bagaimana dengan masyarakat multikultur seperti di Amerika Serikat, Indonesia,India, Singapura dll?

l  Dalam bangsa multikultural terdapat dominasi etnis tertentu untuk memberikan inspirasi nasionalisme, namun tidak berarti nasionalisme menjadi homogen karena juga ditopang oleh ikatan-ikatan non etni.

Nasionalisme produk Eropa

l  Konsep negara-bangsa (nation-state) di Eropa abad 18 yang merupakan bagian dari revolusi kerakyatan dalam meruntuhkan hegemoni kelas aristokrat.

l  Nasionalisme merupakan hasil modernisasi, produk masa Pencerahan. Intinya adalah egalitarian

l  Nasionalisme adalah penemuan bangsa Eropa untuk mengatasi keterasingan dalam masyarakat modern (Elie Kedourei, 1960)

 

 

l  Sebagai sebuah ideologi, nasionalisme memiliki kapasitas memobilisasi massa melalui janji-janji kemajuan yang merupakan teologi modernitas. Kondisi-kondisi yang terbentuk ini tak lepas dari Revolusi Industri ketika urbanisasi dalam skala besar memaksa masyarakat pada saat itu untuk membentuk sebuah identitas bersama (Ernest Gellner, 1983)

l  nasionalisme dibentuk oleh kematerian industrialisme yang membawa perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat

l  Gellner sampai pada satu argumen bahwa nasionalismelah yang melahirkan bangsa, bukan sebaliknya.

 

 

l   Masalah : nasionalisme tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah proses dari atas ke bawah di mana kelas dominan memiliki peranan lebih penting dalam pembentukan nasionalisme

l   pemahaman komprehensif tentang nasionalisme sebagai produk modernitas hanya dapat dilakukan dengan juga melihat apa yang terjadi pada masyarakat di lapisan paling bawah ketika asumsi, harapan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat pada umumnya terhadap ideologi nasionalisme memungkinkan ideologi tersebut meresap dan berakar secara kuat (Eric Hobsbawm, 1990)

l   elemen-elemen sosial seperti bahasa, kesamaan sejarah, identitas masa lalu, dan solidaritas sosial menjadi pengikat erat kekuatan nasionalisme.

 

l  nasionalisme sebagai sebuah ide atas komunitas yang dibayangkan, imagined communities (Bennedict Anderson, 1991)

l  Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial

l  nasionalisme sebagai sebuah hasil imajinasi kolektif dalam membangun batas antara kita dan mereka, sebuah batas yang dikonstruksi secara budaya melalui kapitalisme percetakan (cetakan nasionalisme), bukan semata-mata fabrikasi ideologis dari kelompok dominan.

Coffe Break!

l  Bentuk kelompok yang terdiri dari 5-6 orang

l  Buat diskusi dengan permasalahan utama:

    – Bagaimana pendapat anda tentang nasionalisme Indonesia yang terbentuk atas imajinasi tentang sebuah “Bangsa Indonesia?”

    – Bagaimana bangunan nasionalisme Indonesia yang seharusnya dibangun oleh generasi muda Indonesia saat ini?

Post-Colonial Nationalism

l   Anderson berargumen bahwa nasionalisme masyarakat pascakolonial di Asia dan Afrika merupakan hasil emulasi dari apa yang telah disediakan oleh sejarah nasionalisme di Eropa.

l   Para elite nasionalis di masyarakat pascakolonial hanya mengimpor bentuk modular nasionalisme bangsa Eropa

l   Kritik : Anderson menafikan proses-proses apropriasi dan imajinasi itu sendiri yang dilakukan oleh masyarakat pascakolonial dalam menciptakan bangunan nasionalisme yang berbeda dengan Eropa (Partha Chatterjee, 1993).

 

l    nasionalisme masyarakat pascakolonial dibentuk berdasarkan suatu differance sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kolonialisme (John Plamenatz, 1976)

 

NASIONALISME BARAT

l    nasionalisme Barat bangkit dari reaksi masyarakat yang merasakan ketidaknyamanan budaya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi akibat kapitalisme dan industrialisme.

l    budaya mereka memungkinkan mereka menciptakan sebuah kondisi yang dapat mengakomodasi standar-standar modernitas.

 

NASIONALISME TIMUR

l    nasionalisme Timur lahir dalam masyarakat yang terobsesi akan apa yang telah dicapai oleh Barat tetapi secara budaya mereka tidak dilengkapi oleh prakondisi-prakondisi modernitas yang memadai

l    Pada satu sisi, dia merupakan emulasi dari apa yang telah terjadi di Barat. Di sisi lain dia juga menolak dominasi Barat.

 

l   Pharta Chatterjee : pemisahan dunia materi dan dunia spirit yang membentuk institusi dan praktik sosial masyarakat pascakolonial

l   Dunia materi adalah “dunia luar” meliputi ekonomi, tata negara, serta sains dan teknologi. Dalam domain ini superioritas Barat harus diakui dan mau tidak mau harus dipelajari dan direplikasi oleh Timur

l   Dunia spirit, pada sisi lain, adalah sebuah “dunia dalam” yang membawa tanda esensial dari identitas budaya. Semakin besar kemampuan Timur mengimitasi kemampuan Barat dalam dunia materi, semakin besar pula keharusan melestarikan perbedaan budaya spiritnya. Di domain spiritual inilah nasionalisme masyarakat pascakolonial mengklaim kedaulatan sepenuhnya terhadap pengaruh-pengaruh dari Barat.

 

l   penekanan dunia spirit dalam masyarakat pascakolonial adalah bentuk respons mereka terhadap penganaktirian dunia spirit oleh peradaban Barat

l   masyarakat pascakolonial mencoba mengambil peluang tersebut untuk membangun sebuah jati diri yang autentik dan berakar pada apa yang telah mereka miliki jauh sebelumnya

l   Implikasi strategi ini dalam bangunan nasionalisme pascakolonial dapat dilihat dari upaya-upaya kaum elite nasionalis membangun sebuah ideologi nasionalisme yang memiliki kandungan spiritual yang tinggi sebagai representasi kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh peradaban Barat.

l   Contoh : PANCASILA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s