Is the Theory of Sociology Post-Modern as the real Democracy and The Pure Liberalism ?

Oleh : Tonny D Effendi

Abstract
The post-modern perspective still as the warm discussion in the social theory analysist. There are still be a debate about the epistemology and the methodology of this perspective.
By refered from the Derrida’s perspective about the independence of human thinking that was out from the political power in the language, I think that if we want to learn more about the real democracy, we can look the Derrida’s perspective as post modern perspective. It is important because the basic means of democracy is bring back the human indepence in power, inclusive also the power to interpreting the words mean. In other side, some post modern analyse showed the real liberal society when every one actually have freedom to determined their live and opinion.
From Social Scientist,like Stephen Crook, the post-modern perspective is so important to analyse the new society in the post modern era, but in epistimology and the methodology this perspective still in the debate. If the post-modern perspective have been succed to build a big building of analyse and they was internalize in the sociology, it will support the theory of sociology to the new way, unpredictable and so different with the theory of sociology as we learn today!

Perspektif post modern pada dasarnya merupakan perkembangan dari teori social post strukturalis yang memberikan kritik kepada pemiki strukturalis dan menganggap apa yang disebut oleh kaum strukturalis sebagai bentuk maha karya modernitas sebagai seutau bentuk akhir yang universal. Kritikan post strukturalis terutama ditujukan atas segala produk modernitas yang kemudian diuniversalkan dan dianggap sebagai satu nilai saja. Kritikan tersebut kemudian dilanjutkan oleh kaum post modern dengan menfokuskan pada kritikan terhadap bentuk dan pemikiran kaum modern yang cenderung memiliki “kekuatan” untuk memaksakan nilai universal dan terlihat produk modern sangat tidak bebas kepentingan dari segala yang memiliki kekuasaan.
Post modern menawarkan sebuah pemikiran dimana menjunjung tinggi kebebasan setiap manusia untuk menginterpretasikan realitas social yang ada. Sehingga yang terjadi adalah munculnya berbagai interpretasi majemuk atas suatu realitas social yang ada. Post modern menolak berbagai analisa dari teori social modern yang melakukan pendekatan rasional atas realitas social yang ada. Penolakan ini ditujukan pada sisi rasionalitas. Rasionalitas yang diusung oleh teori social modern dianggap memaksakan suatu rasionalitas kepada orang lain sedangkan setiap orang memiliki rasionalitas sendiri.
Sementara itu dari sisi keilmuan, akibat menjunjung tinggi kebebasan setiap manusia untuk berpendapat dan mengartikan sesuatu, maka teori social post modern sendiri sangat abstrak karena masing-masing tokoh postmodern memiliki arti sendiri dan mereka membiarkan berbagai pengartian ini sebagai wujud dari sebuah kebebasan berfikir. Kemudian, kritikan muncul dari kelompok teori social modern ketika postmodern juga tidak memiliki metodologi yang jelas. Postmodern sendiri pada dasarnya lebih mengutamakan proses daripada hasil sehingga dari metodologis sangat bertentangan dengan apa yang disebut dengan “teori” oleh kaum modern positivis dimana semuanya harus terukur, empiris dan berdasarkan logika dan rasionalitas yang menurut mereka benar. Postmodern sendiri menolak metodologi modern dan lebih mengembangkan metode yang multi interpretative sehingga muncul apa yang disebut dengan analisa reflektif dimana satu realitas social dapat dilihat dandiinterpretasikan berdasarkan berbagai pandangan dan tidak tunggal seperti dalam teori modern. Pandangan postmodern ini sebenarnya adlaah memberikan kritik kepada teori social modern yang menyebabkan ketidakseimbangan (inequality) antara realitas dengan analisanya. Artinya realitas pada dasarnya mampu berkata-kata dengan berbagai kata, bukan kemudian “diharuskan” untuk berkata berdasarkan metode positivis. Disinilah ketidakseimbangan itu dimana antara realitas dan analisa terdapat ketimpangan dan pemaksaan. Tulisan ini mencoba mengkaitkan antara kebebasan berfikir yang diusung oleh kaum postmodern dengan arti demokrasi dan liberalisme sebenarnya.

Seperti yang dijelaskan dalam abstraksi, demokrasi yang diusung oleh dunia Barat untuk “membius” dunia lainnya, pada dasarnya mengusung kebebasan kepada setiap individu untuk berfikir dan berpendapat. Sehingga jika fenomena seperti AS yang menyerang Irak dan Afghanistan dengan mengusung demokrasi, pada dasarnya itu menikam nilai demokrasi yang mereka angungkan sendiri. Seperti pendapat tokoh postmodern, Huxtable yang kemudian diikuti oleh Umberto Eco dan Baudrillard yang mengatakan bahwa “yang tidak rill (unreal) menjadi realitas… yang riil kini meniru imitasi”, merupakan gambaran atas realitas yang sekrang ini terjadi dalam masyarakat post modern.
Pendapat dari tokoh postmodern diatas menggambarkan betapa dunia saat ini telah terbentuk dari serangkaian imitasi yang kemudian lebih asli daripada yang asli itu sendiri dan pada satu titik, sesuatu yang asli menjadi lebih imitasi dan akhirnya meniru yang tidak asli. Dalam kasu demokrasi dimana pada kaidah dasarnya menjunjung kemerdekaan tiap individu untuk berfikir, telah diimitasi oleh Barat untuk mencapai kepentingannya dan dipaksakan kepada masyarakat lain didunia ini dengan mengusung apa yang disebut dengan demokrasi dan modernitas. Demokrasi yang ditawarkabn oleh Barat ini pada dasarnya bukanlah demokrasi yang sebenarnya (the real democracy), namun merukan imitasi dari demokrasi atau demokrasi tiruan. Lalu, dimanakah letak demokrasi yang sebenarnya? Pertanyaan inilah yang menurut saya ingin dijawab oleh kaum postmodern bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki kebebasan untuk berfikir dan berpendapat serta menentukan peranya dalam masyarakat. Sehingga setiap masyarakat memiliki hak untuk menentukan system yang menurut mereka sesuai dan membawa kebaikan bersama. Sehingga system demokrasi yang ditawarkan oleh Barat seringkali tidak sesuai dan sulit sekali diterapkan dibeberapa negara. Hal itu bukan tanpa sebab atau murni karena ketidak mampuan negara yang bersangkutan untuk menerapkan demokrasi Barat,melainkan demokrasi Barat sendiri tidak memberikan kebebasan kepada masyarakat dinegara itu untuk memiliki artian sendiri atau interpretasi sendiri terhadap masyarakat dan permasalahannya sendiri. Barat cenderung memaksakan kacamatanya sendiri kepada mata yang berbeda. Disinilah sebenarnya dalam demokrasi Barat pun terdapat ketimpangan analisa seperti yang dikritik oleh kaum postmodern.
Sementara itu disisi lain, postmodernisme pada dasarnya mencoba untuk mengembalikan kebebasan berfikir kepada individu dan melepaskan keterikatan mereka terhadap kaidah-kaidah positivis. Sehingga dari sisi ini kita bisa melihat bahwa postmodernisme mencoba untuk mengembalikan liberalisme kepada individu itu sendiri, dan disinilah terjadi dengan apa yang disebut the pure liberalism. Liberalisme yang menjunjung kebebasan setiap individu dan dikenal luas sebagai produk demokrasi, sebenarnya justru terdapat pada postmodern. Liberalisme modern itu pada dasarnya adalah sebuah narasi besar tentang liberalisme itu sendiri jadi mungkin bisa juga dikatakan sebagai sebuah imitasi dari liberalisme. Kebebasan dalam imitasi liberalisme pada dasarnya bersifat semu dan terjadi pemaksaan kaidah positivis. Karena terjadi pemaksaan nilai universal positivis, maka justru kebebasan tersebut tidak terjadi. Liberalisme yang asli mengusung kebenaran relative, interpretasi majemuk dan reflektif dan bebas bentuk sesuai dengan masyarakatnya.
Dalam studi konflik, saya lebih menaruh harapan pada perspektif postmodern ini untuk menyelesaikan konflik yang ada. Pemikiran modernisme dengan positivisnya, mencoba menyelesaikan konflik berdasarkan gambaran yang mereka peroleh dengan mengaplikasikan teori social positivis untuk melihat realitas dan permasalahan social. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, masih mampukah teori social modern mengatasi permasalahan yang begitu kompleks? Yang sering terjadi adalah, teori social modern sukses dalam menjelaskan permasalahan yang ada. Sehingga hanya bersifat penjelasan atas permasalahan yang ada, namun sering mengalami kebuntuan dalam solusi. Oleh karena itu, pemikiran postmodern yang lebih menegaskan pada penggunaan analisa reflektif sehingga muncul berbagai interpretasi dari semua pihak yang bertikai akan lebih “menghormati” tiap-tiap pihak yang bertikai sehingga tugas pengilmu social kemudian adalah dengan menyadari bahwa setiap masyarakat memiliki interpretasi sendiri. Sehingga tidak bisa dipaksakan pemikiran positivis dengan nilai universalitasannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana postmodern membuktikan solusi yang ditawarkannya dengan bentuk yang relative masih abstrak? Analisa reflektif memang masih dalam perkembangan dan analisa ini lebih banyak membutuhkan tenaga daripada analisa positivis. Oleh karena itu masih perlu banyak upaya dari ahli postmodern untuk membuktikan kontribusinya pada permasalahan social. Dan tugas utama postmodernist adalah “membumikan pemikiran social yang masih ada dalam ranah pemikiran dan kemudian melandaskanya dalam masyarakat riil” untuk memberikan kebenaran atas apa yang asli dan apa yang tiruan.
Contoh masyarakat postmodern yang menurut saya telah ada sebagai bukti pemikiran postmodern adalah masyarakat dalam dunia maya. Dalam dunia ini kita mengenal adanya e-democracy atau demokrasi yang ada dalam masyarakat maya internet dimana semua orang dari belahan dunia manapun memiliki hak yang sama dan kebebasan, sedangkan server pengelola hanya sebagai penyedia lahan demokrasi dan tidak memiliki kekuasaan pemaksaan seperti dalam dunia nyata. Namun hal ini memang masih dalam tahapan maya, namun menurut saya dengan perkembangan dunia teknologi dan informasi, kaidah teori social modern yang berjalan lambat akan tersalip dengan analisa postmodern terutama dalam menganalisa permasalahan masyarakat pasca modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan hubungan serta interaksi non fisik yang menimbulkan permasalahan tersendiri.
Analisa tentang hubungan teori social postmodern dengan demokrasi dan liberalisme memang sangat premature dengan tulisan empat lembar ini. Masih banyak perdebatan dan diskusi untuk mengkaji analisa ini. Namun setidaknya tulisan ini mencoba untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa kita sekarang ini sedang berada dalam sebuah dunia yang penuh dengan imitasi sehingga kita sendiri tidak bisa membedakan yang mana yang asli dan mana yang tidak asli atas realitas social yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s