Jepang Menatap Asia

JEPANG MENATAP ASIA

Tonny Dian Effendi 

Ukoku kyohei atau negara kaya dengan militer yang kuat! Itulah semboyan yang menjadi spirit Restorasi Meiji di Jepang setelah berada dalam politik pintu tertutup (sakoku)dengan pihak luar dalam kekuasaan Tokugawa selama 250 tahun. Pada masa Restorasi Meiji inilah Jepang membuka diri terhadap modernisasi Eropa yang mereka anggap telah selangkah lebih maju dan membuat Jepang berusaha untuk mengejar ketertinggalannya.Restorasi Meiji merupakan proses Westernalisasi di Jepang. Proses ini telah membawa banyak pengaruh Barat yang masuk ke Jepang termasuk dalam cara pikir dan budaya. Politik yang diterapkan oleh Jepang kala itu adalah datsu A nyu O  atau keluar dari Asia dan masuk ke Eropa dan slogan Wakon Yosai yaitu kepribadian Jepang dengan teknologi Barat. Pengaruh yang kuat dari Barat harus diantisipasi oleh Jepang sendiri agar tidak terjebak dalam imperialisme Barat seperti yang telah dialami oleh beberapa negara di Asia Tenggara. Oleh karena itu kemudian Jepang membangun ekonominya untuk menghidari tekanan Barat yang masuk setelah Restorasi Meiji.Pembangunan ekonomi dan militer Jepang sejak Restorasi Meiji telah menjadikan Jepang sebagai kekuatan militer dan ekonomi besar di kawasan Asia Timur sampai pada Perang Dunia I. Namun dalam proses itu sendiri Jepang berubah menjadi sebuah negara fasis dan ekspansif seperti terlibat dalam perang dengan China pada tahun 1894-1895 dan perang Jepang – Rusia pada tahun 1904-1905.Jepang yang fasis inilah yang kemudian juga menyeret Jepang dalam pertikaian antar negara pada Perang Dunia II. Jepang berekspansi dengan menguasai Korea, China dan sampai ke Indonesia. Perluasan kekuasaan Jepang berakhir dengan kehancuran ketika dua bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 dan menyeret Jepang kearah kehancuran ekonomi dan psikologi.Sebagai negara yang kalah perang, Jepang akhirnya menjadi sebuah negara yang berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat, negara yang mengalahkannya. Namun suatu keajaiban muncul ketika Jepang dengan waktu yang relatif singkat muncul sebagai kekuatan ekonomi dunia. Meski secara militer, Jepang masih berada dalam pengawasan dan payung keamanan Amerika Serikat, namun secara ekonomi Jepang lebih independen dan bahkan melampaui Amerika Serikat sendiri.Perkembangan teknologi dan industri Jepang tentu saja didukung oleh faktor budaya, sosial dan politik yang membuat mereka mampu menggerakkan seluruh kekuatan bangsa untuk membangun ekonominya. Yang kemudian menjadi menarik adalah ketika faktor budaya, sosial dan politik ini kemudian berujung pada sense of survival bangsa Jepang yang menyadari baik secara geografis dan politik berada dalam situasi yang tidak aman dan penuh dengan ancaman. Sense of survival ini terwujud dalam budaya politik Jepang yang terimplementasi dalam kebijakan politik yang berubah seiring waktu mulai dari Restorasi Meiji sampai kepada abad-21 sekarang ini.Dari waktu ke waktu, kebijakan politik Jepang berubah sesuai dengan kondisi kebutuhan dan lingkungannya, namun tetap berpusat pada satu dasar yaitu perpaduan antara ekonomi dan militernya. Faktor penting dalam kebijakan politik Jepang pada abad 21 sekarang ini adalah faktor China. Jepang memiliki sejarah permasalahan dengan China dan Korea sejak menginvasi kedua negara tersebut pada Perang Dunia II. Faktor tersebut memberikan dua implikasi terhadap tantangan kebijakan luar negeri Jepang yang ingin berperan aktif dalam dunia internasional. Pertama, berkaitan dengan permasalahan regional yaitu kondisi lingkungan yang masih belum stabil terkait dengan hubungan Jepang dengan dua negara tetangganya, China dan Korea (Utara dan Selatan). Kedua adalah berkaitan dengan faktor China yang memiliki kekuatan hak veto di PBB yang dikhawatirkan akan menghambat ambisi politik Jepang untuk menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Orientasi politik Jepang juga berubah dari waktu ke waktu. Pada masa Restorasi Meiji, orientasi politik Jepang tidak mengarah kepada “asianisasi” jika dibandingkan dengan “westernalisasi”, namun justru mengarah kepada pendapat bahwa Jepang yang harus memimpin Asia untuk menghadapi dominasi Barat. Meski orientasi tersebut terhenti ketika Jepang kalah pada Perang Dunia II, namun dalam perkembangan di era globalisasi ini, Jepang lebih melihat kepada faktor persaingan dengan China sebagai pendatang baru dalam raksasa ekonomi Asia. Sejak saat itu, Jepang berusaha merumuskan kebijakan baru dengan melakukan identifikasi kepentingan internasionalnya agar peran politiknya di dunia internasional sebanding dengan kemampuannya dibidang ekonomi, baik secara regional maupun global. Salah satu strategi yang kemudian diambil oleh Jepang adalah dengan memasukkan partnership dengan engara-negara dikawasan Asia untuk memperkuat ikatan politik.Perkembangan baik dalam bidang ekonomi dan politik yang terjadi di Jepang setidaknya dapat menjadi suatu pelajaran bagi bangsa Indonesia bagaimana melangkah kedepan untuk membangun sebuah bangsa yang lebih baik. Indonesia dan Jepang memiliki hubungan erat ketika Jepang menjajah Indonesia yang pada awalnya diterima sebagai seorang “saudara tua” yang membawa janji bahwa kedatangan Jepang adalah untuk membantu mencapai Indonesia merdeka. Para tokoh nasionalis di Indonesia menerima dengan baik kedatangan Jepang karena dapat menjadi contoh kebangkitan bangsa Asia melawan bangsa Eropa.sikap positif ini tidak hanya dilakukan oleh para tokoh nasionalis, namun juga oleh masyarakat Indonesia.

Penjajahan Jepang terhadap bangsa Indonesia ternyata juga meninggalkan pengaruh budaya. Penjajahan Jepang tidak hanya pada bidang militer dengan pembentukan tentara PETA dan Heioho maupun seinendan dan keibodan. Budaya disiplin yang dianut oleh bangsa Jepang juga ditransfer kepada bangsa Indonesia seperti budaya upacara bendera, pemakaian seragam serta sistem RT dan RW. Oleh karena itu warisan budaya yang baik ini seharusnya ditingkatkan untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Jepang memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia terutama dalam bidang investasi dan perdagangan yang bisa ditiru perkembangannya oleh bangsa Indonesia.

 Judul Buku     : Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia

Penulis            : Abdul Irsan

Penerbit          : Grafindo Khazanah Ilmu, Jakarta

Tahun terbit    : Cetakan I, November 2007Tebal buku     : 282 halaman 

Tonny D Effendi

Penulis adalah pengajar pada jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s