Naga Lapar atau Panda Jinak?

Letupan Perang CHina Mendatang

Naga Lapar atau Panda Jinak?

Tonny Dian Effendi Analogi diatas menggambarkan potensi dan posisi yang dimainkan China dalam peta ekonomi dan politik internasional. Tentu saja keduanya memiliki wajah yang berhadapan sekaligus membawa implikasi yang berseberangan. Mengapa analogi itu muncul dalam perkembangan China dewasa ini?Peter Navarro, seorang dosen di Universitas California, menuliskan laporannya dalam sebuah buku bertajuk Letupan-letupan Perang China Mendatang , yang menggambarkan potensi konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China.Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa perkembangan ekonomi China dalam satu dasawarsa terakhir sangat mengagumkan. Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai dua digit atau sekitar 11% pertahun merupakan sebuah prestasi besar bahkan beberapa ahli mengatakan bahawa pertumbuhan ekonomi yang dicapai China justru lebih besar dari pertumbuhan ekonomi yang pernah dicapai Jepang pasca Perang Dunia II dan lebih dari pertumbuhan yang pernah dialami  Asian Tiger (Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong) dalam keajaiban ekonomi Asia (The Asian Miracle)Kejayaan ekonomi China tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, namun berkembang pasca reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Deng Xiao Ping. China memiliki kelebihan dalam SDM yang menopang pembangunan ekonominya. Kelebihan tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu kelebihan dari sisi kuantitas dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar jiwa sehingga merupakan potensi sumber tenaga kerja. Sudut pandang yang kedua adalah kualitas SDM yang dimiliki China. Pembangunan SDM China telah diawali pada tahun 1970an dengan mengirim 860 pemuda untuk belajar keluar negeri pada tahun 1978 dan kemudian berkembang menjadi 114.682 pada tahun 2004. Pendidikan lebih difokuskan pada bidang sains dan teknologi dengan prosentase sekitar 40%. Saat ini China telah menghasilkan 30.000 peneliti pasca doktoral dan 12.000 orang yang sedang mengikuti program ini.SDM yang kuat tersebut mendukung pembangunan ekonomi yang cukup besar di China. Bahkan pada tahun 2006, Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar US$233 milyar. Uni Eropa pun juga was-was melihat perkembangan ekonomi China karena mengalami defisit perdangan dengan China sebesar US$128 milyar pada tahun 2006 dan US$170milyar pada tahun 2007.Lalu apakah ancaman yang muncul dibalik pertumbuhan ekonomi China ini? Navarro melihat ancaman ini sebagai ancaman terhadap dominasi Amerika Serikat baik dalam ekonomi dan politik internasional. Hal ini akan memicu terhadap apa yang disebut dengan the coming China war atau datangnya perang besar dengan China. Beberapa “perang” yang muncul yaitu perang terhadap pembajakan. Bagi beberapa pengamat dan pelaku bisnis internasional, China melakukan pembajakan dalam beberapa produk dari negara lain mulai dari piranti lunak, film hollywood, AC sampai pada obat-obatan. Perang yang kedua adalah perang opium abad ke-21. China dianggap sebagai salah satu pengedar obat bius terbesar didunia. China memiliki pengalaman historis sebagai kawasan transit utama opium dikawasan Segitiga Emas. Dari penjualan dan penyelundupan obat bius tersebut akan menjadikan China sebagai kawasan yang ramai untuk pencucian uang hasil perdagangan narkoba.Perang yang ketiga adalah masalah lingkungan. Pembangunan industrialisasi di China memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Laporan hall of shame tentang lingkungan versi Bank Dunia menyebutkan China merupakan bangsa yang paling tercemar didunia. Hal ini terjadi karena industialisasi yang pesat dengan pengendalian lingkungan yang tidak ketat, dan dapat menjadi ancaman ketika kerusakan lingkungan tersebut menyebar kenegara-negara lain sehingga memicu konflik. Perang keempat adalah tentang perebutan sumber daya minyak. Industrialisasi di China memicu negara ini sebagai negara dengan konsumsi minyak terbesar kedua didunia. China menguasai hampir setengah dari permintaan minyak dunia yang berakibat pada melonjaknya harga minyak mencapai US$100 per barel. Untuk mendapatkan pasokan minyak ini, China bekerjasama dengan beberapa negara yang dianggap “musuh” bagi Amerika Serikat seperti Iran, Venezuela dan beberapa negara di Afrika. Tawaran yang diberikan China adalah idealisme multipolar untuk melawan unipolar Amerika Serikat.Perang kelima adalah perang imperialis baru. Industri China merambah keberbagai negara di dunia. China saat ini mampu memberikan pinjaman besar dengan bunga rendah dengan kompensasi sumber daya alam. Perang keenam adalah perang perebutan air. China memiliki beberapa sungai yang mengalir hingga kebeberapa negara di selatan seperti Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam. Industrialisasi tanpa didukung pengendalian ekonomi menyebabkan pencemaran air dan berkurangnya pasokan air bagi negara-negara di kawasan hulu sungai tersebut. Perang ketujuh adalah perang didalam negeri China sendiri. China pernah mengalami perang saudara pada tahun 1940an yang berakhir dengan berdirinya Republik Rakyat China sebagai representasi kemenangan kelompok komunis dan kelompok nasionalis mendirikan negara sendiri di Taiwan. Industrialisasi di China mendorong pertumbuhan tenaga kerja yang tinggi dengan gaji yang rendah. Sehingga memunculkan banyak protes yang meningkat hampir 100.000 kali setiap tahun. Protes-protes inilah yang dikhawatirkan memicu perang sipil. Perang yang kedelapan adalah tentang adanya kerusakan kesehatan dengan munculnya berbagai penyakit akibat degradasi lingkungan hasil proses industrialisasi.Beberapa permasalahan diatas adalah harga yang haus dibayar atas “harga China” saat ini. Harga China yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi China atas Amerika Serikat, yaitu harga barang yang rendah yang menghancurkan industri domestik Amerika Serikat. Navarro, pada bagian akhir menyatakan bahwa buku yang lebih mirip laporan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang apa yang terjadi dalam hubungan China dengan Amerika Serikat saat ini dan apa yang terjadi kelak jika kondisi pertumbuhan ekonomi yang timpang dengan perlindungan lingkungan dan praktek ilegal China tetap dipertahankan.Buku ini sangat menarik terutama pada para akademisi, mahasiswa, pengambil kebijakan atau khayalak umum yang berminat pada kajian ekonomi politik internasional. Bahasa yang digunakan cukup lugas dan didukung dengan sumber-sumber data baik kualitatif dan kuantitatif yang terpercaya. Satu lagi, buku ini dapat menjadi pembelajaran tentang bagaimana tidak saja masalah pembangunan ekonomi di China, namun juga pembangunan SDM yang dapat diteladani oleh bangsa Indonesia. Kualitas SDM Indonesia tidak kalah dan bahkan lebih baik dari beberapa bangsa di dunia, namun prestasi itu tidak diikuti dengan penghargaan dan kesempatan berkarya didalam negeri. Makanya jangan menanyakan nasionalisme ketika banyak orang pintar di negeri ini akhirnya membantu mengembangkan industri dan pendidikan di negara lain. Bukan hanya masalah finansial namun juga masalah fasilitas dan kesempatan.  Penulis adalah pengajar pada Departemen Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s