POSTMODERN IN INTERNATIONAL SYSTEM

Tonny Dian Effendi

Pendahuluan
Perkembangan fenomena hubungan internasional yang semakin kompleks terutama pasca Perang Dingin membutuhkan satu analisa baru untuk menggambarkan masyarakat internasional dan sistem internasional. Beberapa ahli berpendapat bahwa telah terjadi perubahan dalam sistem internasional dimana pola-pola hubungan dan interaksi antar negara bangsa era saat ini mulai meninggalkan pola-pola yang digambarkan oleh teori-teori modern, sehingga diperlukan definisi baru untuk menggambarkan pola-pola baru ini. Pola-pola interaksi baru ini dinamakan sebagai era postmodern,sebagai sebuah era baru yang meninggalkan pola-pola hubungan masyarakat modern dengan menitik beratkan pada beberapa permasalahan yaitu perkembangan teknologi infomasi, transformasi dan kemajuan ekonomi. Perkembangan ini telah menyebabkan perubahan dalam beberapa aspek sistem internasional seperti pada skala, kapasitas interaksi, proses, unit dan struktur dalam sistem internasional.
Transformasi menuju Sistem Internasional Postmodern
Postmodern pada dasarnya merupakan sebuah analisa sosiologis untuk menggambarkan perubahan dalam masyarakat sehingga membutuhkan pemikiran baru dan bagi beberapa pihak yang radikal, postmodern juga menolak analisis teori modern karena dianggap tidak sesuai dengan masyarakat baru tersebut. Demikian pula yang terjadi dalam studi hubungan internasional dimana telah terjadi pola-polabaru dalam interaksi antar aktor hubungan internasional sehingga menyebabkan transformasi dalam sistem internasioal dari era modern ke postmodern.
Pada aspek skala, sistem internasional saat ini digambarkan sedang mengalami transisi menuju postmodernitas dimana skala sistem internasional semakin luas sedangkan media dunia tetap sehingga intensitas kedalam dalam artian interaksi antar aktor menjadi semakin intensif karena kebutuhan interaksi semakin kompleks dan padat sedangkan dunia (bumi) tidak bertambah luas sehingga jarak secara geografis semakin pendek dan hanya pilihan untuk meningkatkan intensitas interaksi dalam sistem internasional yang paling mungkin dilakukan, bukan pada perluasan sistem.
Selanjutnya pada aspek kapasitas interaksi ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan transformasi fisik dan sosial semakin mudah, cepat dan murah. Sistem internasional selanjutnya membentuk jaringan-jaringan yang saling terkait seperti dalam bidang ekonomi tercipta perdagangan, sistem keuangan yang terjalin dengan erat dan mudah karena transformasi informasi ekonomi global secara instan. Dalam bidang sosial, kemajuan internet telah menyebabkan hubungan antar manusia, kelompok diberbagai belahan dunia menjadi semakin intensif untuk bertukar informasi dan opini sehingga dapat saling mempengaruhi dan dalam bidang politik, kemajuan teknologi ini membuat peran negara menurun karena batas-batas negara tidak lagi menjadi hambatan untuk berinteraksi. Hal ini memungkinkan aktor diluar negara untuk berperan dalam sistem internasional dan berpengaruh didalamnya, seperti MNC, INGO dan IGO. Sehingga kemudian munculberbegai permasalahan dan fenomena baru dalam sistem internasional yang sebelumnya tidak ditemui dalam masa modern seperti masalah migrasi, pasar keuangan, kriminalitas transnasional dan sebagainya yang mengiringi kemajuan teknologi informasi dan dunia tanpa batasnya.
Dalam aspek proses dalam sistem internasional, perkembangan postmodern ditandai dengan adanya transformasi yang menghasilkan dua dunia dari perkembangan hubungan center-periphery. Dunia pertama ditandai dengan dunia zona perdamaian yang juga dikatakan sebagai dunia postmodern. Perdamaian di zona ini terbentuk karena adanya kesadaran keamanan bersama, dan ditandai dengan adanya negara industri maju dengan sistem demokrasinya dan hubungan internasional yang dilakukan tidak lagi dijalankan dengan pemikiran realis. Zona damai ini merupakan refleksi dari negara postmodern dimana masyarakat dan ekonomi terbuka dan tercipta salingketergantungan, banyak aktor transnasional yang membentuk masyarakat internasional. Sedangkan dunia kedua adalah zona konflik dimana merupakan perpaduan antara negara modern dan premodern. Hubungan antar negara disini diwarnai dengan hubungan yang digambarkan analisa realis yaitu dimana kedaulatan menjadi unsur utama dan penggunaan kekuatan militer menjadi wajar dan rasional untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Untuk menjaga perdamaian biasanya mereka membentuk organisasi regional seperti ASEAN, SADC dan Mercosur. Selanjutnya, dalam proses transformasi sistem internasional ini muncul istilah dominan yaitu globalisasi dimana aktor non negara sangat berperan dalam sistem internasional dan menciptakan budaya-budaya baru yang disebarkan keseluruh dunia.
Dalam aspek unit dalam sistem internasional ditandai dengan munculnya unit-unit diluar negara yang memainkan peranan penting dalam sistem. Unit-unit baru ini seperti munculnya aktor ekonomi internasional seperti bank dan perusahaan, proses formasi seperti IGO dan rezim, serta struktur seperti pasar, yang berhubungan dengan pemerintah negara. Fenomena yang muncul adalah tidak adanya unit yang dominan seperti pada masa modern, karena terjadi erosi pada batas dan kedaulatan negara dan hubungan internasional yang terjadi tidak lagi hanya dilakukan oleh negara.
Selanjutnya dalam aspek struktur sistem internasional terjadi perubahan dimana tidak ada struktur yang dominan seperti pada masa uni polar atau bipolar. Polaritas terjadi tidak tunggal, melainkan pada beberapa polaritas seperti pada sektor ekonomi, militer dan lain-lain. Dengan merujuk padapemikiran neorealis, yang terjadi adalah sistem pasar global dimana tercapai tanpa adanya peperangan, dan sistem ini terbentuk karena munculnya banyak aktor baru sepeti MNC dan INGO yang memiliki kekuatan besar. Mekanisme yang terjadi adalah mekanisme seleksi alam dimana yang bisa beradaptasi da bertahan dialah yang betahan jadi tidak berbicara masalah dominasi. Banyaknya organisasi internasional yang didaulat memiliki kewenangan diatas negara seperti Mahkamah Internasional, PBB, NATO merupakan salah satu bukti bahwa dalam sistem internasional postmodern, tidak ada struktur dominan karena masing-masing memiliki dan memainkan peran pada sektor yang berbeda. Struktur budaya dan etnisitas juga banyak bermain dalam sistem ini seperti yang digambarkan oleh Huttington dalam “the clash of civilization’ dan Fukuyama dalam “the end of history”
Penutup
Sistem internasional postmodern menggambarkan realitas baru dalam hubungan internasional yang mana ditandai dengan terbentuknya interaksi baru dan aktor serta struktur baru yang berbeda dengan masa modern. Transformasi dari modern ke postmodern ini disebabkan karena adanya perkembangan teknologi komunikasi informasi serta kemajuan ekonomi yang memunculkan TNC.
Perkembangan ini membuat struktur dalam sistem internasional postmodern terbentuk dari suatu jaringan-jaringan interaksi dimana tidak ada struktur dan unit yang dominan karena mereka berjalan berdasarkan sektor dan perannya masing-masing. Setidaknya ada dua diplomasi dalam sistem internasional postmodern yaitu diplomasi transnasional antar TNC dan INGO dan diplomasi antar negara, TNC dan INGO dalam satu sistem dimana batas-batas dan kedaulatan negara menjadi kabur. Hal itu menunjukkan bahwa telah terjadi interdependensi global, penurunan peranan negara dalam sistem internasional dan meningkatnya isu ekonomi internasional.
Dalam istilah postmodern itu sendiri, sangat penting untuk memberikan definisi untuk membedakan istilah postmodern secara waktu atau secara pemikiran. Dalam kaitannya dengan waktu, postmodern menggambarkan suatu masa setelah modern yang ditandai dengan terbentuknya pola-pola baru. Sedangkan secara pemikiran, postmodern lebih didefinisikan pada munculnya pemikiran-pemikiran baru yang memberikan kritik terhadap teori modern dengan mengartikan kata post sebagai “ana” atau “tidak” modern. Postmodern dalam sisi ini melakukan dekonstruksi terhadap apa yang disebut negara, sistem internasional, wacana melalui dekonstruksi teks literatur dan mengungkapkan makna tersembunyi dari istilah-istilah tersebut. Dalam tulisan Bary Buzan dan Richard Little ini, definisi postmodern yang pertama yang dipakai untuk menggambarkan suatu situasi pasca modernitas yang ditanda dengan pola-pola interaksi baru dalam sistem internasional. Namun terdapat satu catatan dimana Buzan dan Little, sebagaimana yang terjadi dalam ilmu Sosiologi yaitu tidak bisa menarik garis pembeda antara masa modern dan postmodern. Seperti contohnya bentuk negara postmodern pada sistem center-periphery yang menghasilkan bentuk dunia damai dan konflik pada dasarnya merupakan kelanjutan dari masa modern atau dengan kata lain pada dasarnya masih bermain dalam pemikiran modern itu sendiri.

Daftar Pustaka

Crook, Stephen, 2001, Social Theory and Postmodern, dalam George Ritzer dan Barry Smart (ed), Handbook of Social Theory, London ; Sage
Goldstein, Joshua S, 1994, International Relations, New York : HarperCollins College
Gorman, Robert F dan Toma, Peter A, 1990, International Relations ; Understanding Global Issues, California : Brooks/Cole Publishing Company
Ritzer, George, 2005, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s